Mudik Hakiki

Mudik Hakiki
Ramadhan sebentar lagi usai dan Idul Fitri akan segera tiba. Orang-orang yang diperantauan sudah sibuk mempersiapkan diri dengan banyak atau sedikit uang THR (Tunjangan Hari Raya) yang telah diterima untuk melakukan mudik. Kata Mudik kalau dikira-kira adalah akronim dari dua suku kata “mu” = mulang (pulang) dan “dik” = udik (kampung). Jadi mudik artinya pulang kampung.

Mudik adalah kegiatan perantau untuk kembali ke kampung halaman atau kembali ke akar kebudayaan, ke tempat dimana dilahirkan, di daerah yang menjadi asal muasal keluarga besar. Menjelang Hari Raya Idul Fitri, nuansa mudik mulai terasa kental. Bahkan berbagai persiapan sudah dilakukan dari jauh-jauh hari. Pemesanan tiket, perbekalan dan oleh-oleh untuk sanak saudara di kampung halaman pun sudah dipersiapkan sedemikian rupa. 

Tradisi mudik pada Idul Fitri pada dasarnya mengandung nilai positif. Karena di sinilah kita bisa berkunjung dan menyambung lagi silaturrahim, berbagi keceriaan dan kebahagiaan dengan orangtua, sanak saudara, kerabat dan handaitaulan di kampung halaman. 

Namun sadarkah kita, bahwa sebenarnya kita semua adalah perantau dan pasti akan mengalami mudik atau pulang ke kampung halaman, tempat dimana kita semua berasal yakni kampung akhirat. Inilah Mudik Hakiki, mudik yang akan dialami oleh seluruh umat manusia, tak peduli kaya atau miskin, baik atau tidak, pejabat ataupun rakyat, mau tidak mau, suka tidak suka harus melakukannya. 

Mudik Hakiki adalah mudik yang tidak pernah kembali lagi ke perantauan, karena di sanalah tempat abadi kita. Untuk menuju ke sana hanya ada satu jalan dan kendaraan, yaitu kematian. Kematian akan menjemput kita. Akhirat adalah kampung halaman dengan satu pintu, sekali melewatinya, maka sudah pasti dan tidak akan mungkin bisa kembali lagi ke perantauan dunia. Hal itu sebagaimana yang difirmankan Allah, “Katakanlah sesungguhnya kematian yang kamu semua melarikan diri darinya itu, pasti akan menemui kamu, kemudian kamu semua akan dikembalikan ke Dzat yang Maha Mengetahui segala yang gaib serta yang nyata.” (QS. Al-Jumu'ah:8).

Mudik Hakiki adalah mudik yang tidak akan pernah tersentuh atau terpengaruh oleh berbagai krisis apapun. Mudik ke kampung halaman di dunia atau ke kampung halaman akhirat, sama-sama membutuhkan persiapan bekal. Bekal untuk mudik di dunia beragam rupanya bisa uang atau harta benda lainnya. Sedangkan bekal untuk mudik ke kampung akhirat hanya keimanan dan ketakwaan. 

Untuk mudik ke kampung halaman menjelang Idul Fitri, tanpa kita sadari selama sebelas bulan lamanya, berbagai persiapan kita lakukan dengan mengumpulkan sebanyak mungkin bekal yang akan kita bawa pulang. Lalu , sudah sebanyak apakah bekal yang telah kita persiapkan selama hidup di dunia untuk mudik ke kampung akhirat? 

Allah selalu mengingatkan kita agar jangan sampai menyesal ketika kematian datang dan kita masih belum punya bekal yang akan dibawa yang dapat menyelamatkan kita di alam kubur dan alam akhirat kelak. Sebagaimana orang-orang yang menyesal karena saat kematian tiba bekal yang dibawanya tidak cukup dan merengek kepada Allah supaya jangan dimatikan terlebih dahulu, atau kalau pun sudah dimatikan ingin dikembalikan lagi ke dunia. “Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: ‘Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?" (QS.: Al-Munafiqun [63]:10).

Imam Ali bin Abi Thalib, pernah berkata, “Sesungguhnya kita berada pada hari dimana hanya ada amal tanpa ada perhitungan, dan sesungguhnya kita menuju hari dimana hanya ada perhitungan tanpa ada amal”. 

Oleh karena itu, mari kita jadikan setiap detik dan helaan nafas dalam hidup kita ini sebagai detik dan helaan nafas pengumpulan bekal mudik ke kampung akhirat kita, dan jadikan seluruh sisa umur kita, menjadi ajang persiapan mudik ke kampung akhirat, baik dengan beribadah secara vertikal maupun horizontal. 

Semoga pada saat datangnya waktu giliran kita untuk mudik ke kampung akhirat, bekal kita telah mencukupi sehingga kita mendapatkan tempat yang terbaik di kampung akhirat kelak. Amin

13 Responses to "Mudik Hakiki"

  1. amin ya rob. moga mudik kita lebaran saat ini bukan hanya pulang semata, tp mdah2n mendapat manfaat dari perjalanan tersebut

    ReplyDelete
  2. Bekal Mudik Hakiki belum cukup nih... Mesti dibanyakin lagi.
    Suka dengan istilah Mudik Hakiki-nya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sebab itu ayo sama-sama kita perbanyak,
      terima kasih...

      Delete
  3. ya Allah disanalah Tujuan akhir kita namun sering kita melupakannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Suasana dunia sering membuat kita melupakannya Bang

      Delete
  4. Merantaunya sejenak, tapi mudiknya selamanya ya Mas..Maka kita mesti pandai2 menggunakan perantauan sejenak ini agar mudik abadinya nanti sukses..Insya Allah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, makanya mari kita bercocok tanam banyak kebaikan disini, agar kita bisa panen raya disana kelak.

      Delete
  5. Mudik adalah tradisi yang mulia. Mereka berjihad melakukan segala upaya agar dapat meminta maaf kepada orang tua dan handai taulan. sesuatu tradisi yang sangatluar biasa yang dimilikiIndonesia. Entah di negara lain ada mudik gak ya?

    ReplyDelete
  6. mudik ke akhirat memberi maksud yg lebih mendalam dan yg penting impaknya pd jiwa kita.

    ReplyDelete
  7. mungkin dari berasal dari bahasa dayak ma'anyan
    mudi' yang artinya pulang

    ReplyDelete
  8. Semoga bisa mudik hakiki tidak dalam keadaan futur.

    ReplyDelete